Bismillah... Untuk setiap duka yang terasa panjang... Semoga Allah mudahkan kita melihat hikmah di baliknya. Untuk setiap luka yang diam-diam terasa… semoga Allah menjadikannya penggugur dosa. Untuk setiap sedih yang singgah tanpa diminta... semoga Allah menghitungnya sebagai doa yang tak sempat terucap. Untuk setiap tangis yang jatuh dalam sepi… semoga Allah menyimpannya sebagai pahala yang tak terlihat. Untuk setiap hati yang pernah terasa berat… semoga Allah menggantinya dengan ketenangan yang pelan-pelan datang. Untuk setiap langkah yang tertatih menahan perih… semoga Allah menjadikannya jalan pulang menuju hati yang lebih kuat. Untuk setiap hari yang dilewati dengan tabah… semoga Allah menghadirkan hari di mana kita tersenyum sambil berkata, “Terima kasih Yaa Allah... Ternyata aku bisa melewati semuanya.” ✨ Catatan 07 Ramadhan 1447H Maros, 25 Februari 2026
Musim Panen
Sepanjang perjalanan diiringi padi yang menguning, tumpukan karung gabah, dan petakan terpal di depan rumah penduduk. Diawasi kanak-kanak dengan sebatang kayu di tangan. Tak lupa dikibarkan kantong plastik di bagian ujungnya, siap untuk mengusir burung yang hendak mematuk, namun lebih sering mengusir ayam yang berdatangan.
Nenekku, seorang petani yang menggarap sawah orang lain. Dan tentu saja masa kecilku juga pernah seperti itu. Dengan alibi menjaga gabah, padahal malah asik main sendiri di bawah pohon, meletakkan kayu pengusir ayam, dan baru beranjak ketika kulihat nenek atau mama keluar mengecek.
Setelahnya, gabah-gabah yang dijemur itu akan diolah menjadi beras. Ini bagian yang paling kusukai. Karena di kampungku nyaris tak ada pabrik keliling, maka gabah sekarung dua karung akan dibawa ke pabrik gabah yang tempatnya di ujung kota. Kau harus mendengar suara mesinnya yang nyaring berisik. Melihat bangunannya yang gelap, luas, dan bertingkat papan. Menurutku itu lebih mirip gudang sih. Oya, sisa olahan kulit gabah yang baunya aneh akan dijadikan pakan ayam oleh nenekku. Di lain waktu mungkin akan kuceritakan tentang ayam-ayam nenekku.
Tapi jangan salah. Meski aku cucu petani, semasa kecilku tak pernah menginjak sawah. Nenekku bertani di Pinrang. Kami tinggal di Parepare. Jadilah sawah itu sangat jauh untukku. Sungguh menyedihkan, ckckck.
Mamaku juga cucu seorang petani. Bedanya, di waktu libur sekolah, mama selalu ke rumah neneknya untuk terjun langsung ke sawah. Aku selalu iri setiap mendengar cerita itu. Dari musim menanam hingga memanen, mamaku pernah. Aku tidak. Mama pernah naik truk angkutan para petani. Aku tidak. Sebenarnya, aku sering sih melihat petani melakukan hal-hal semacam itu, tapi dari atas motor ataupun kaca mobil angkutan tiap ke Pinrang, hehehe... Mama juga sering membawakan makan siang untuk kakeknya. Seperti adegan-adegan yang sering kulihat di tivi. Tapi aku lagi-lagi tidak.
Ah, sudahlah. Untuk apa pula membandingkan masa kecilku dengan mama. Toh, aku bahagia, meski hanya sekadar menjaga gabah yang dikeringkan, dan ikut ke pabriknya. Itu cukup. :)
*Maros, 01 April 2017
**Selepas mengajar di Sege-Segeri :)
Komentar
Posting Komentar