Pelajaran di usia dua puluh delapan tahun: Ayo kita cintai dan maafkan diri kita sendiri. Maafkan juga kesalahan orang lain, bukan karena kita pantas disakiti, tapi demi kelegaan dan ketenangan diri sendiri. Sadari bahwa kita hanya manusia. Aku, kamu, dia, mereka, semua berpotensi berbuat salah dan membuat kecewa. Kita bukan malaikat. Itulah kenapa Allah memberikan kita hati, akal, dan pikiran. Kita diberi pilihan mau memaafkan, mau mengikhlaskan, mau menerima dengan lapang, atau mau memelihara dendam dan kebencian. Kita diberi pilihan mau menjalani hidup dengan bahagia dan tenang atau membuang-buang waktu dengan penyesalan yang tidak ada habisnya. Kali ini, aku memilih diriku sendiri. Terima kasih ya Amma, sudah bertahan sejauh ini. Tenang saja, ada Allah kok. Jangan putus doa-doa baiknya. Gak akan rugi, insyaa Allah. Untuk semua hal yang tidak kamu adukan pada ayah, tidak pula kamu tangisi di makam ibu, dan hal-hal yang tidak kamu ceritakan pada adikmu, aku cuma mau bilang...
kunjungi sumber gambar Negeriku menangis lagi Ada rerintihan yang beterbangan Jejeritan menghantui Ada lika-liku semacam teka-teki yang membentang Membentuk pusaran kelam yang mencipta duka Kakiku gatal ingin melonjak Tanganku geram tak bertindak Dadaku bergejolak Perih, miris sekali Tapi aku bisa apa? Negeriku menangis lagi Menahan gelegar dingin dan perut yang meronta Tiada lagi bising mengungkung Semua bungkam, mencipta hening Bukan lelah, tapi enggan Negeriku menangis lagi Mungkin karena dosa tiada terkira Amarah mengungkung sungai dan langit Meluapkan kebencian Menumpahkan buah dendam Negeriku menangis lagi Februari kembali basah Menyayat hati Terhalau, terjaga Enggan memejam Maros, 14 Februari 2015