Pelajaran di usia dua puluh delapan tahun: Ayo kita cintai dan maafkan diri kita sendiri. Maafkan juga kesalahan orang lain, bukan karena kita pantas disakiti, tapi demi kelegaan dan ketenangan diri sendiri. Sadari bahwa kita hanya manusia. Aku, kamu, dia, mereka, semua berpotensi berbuat salah dan membuat kecewa. Kita bukan malaikat. Itulah kenapa Allah memberikan kita hati, akal, dan pikiran. Kita diberi pilihan mau memaafkan, mau mengikhlaskan, mau menerima dengan lapang, atau mau memelihara dendam dan kebencian. Kita diberi pilihan mau menjalani hidup dengan bahagia dan tenang atau membuang-buang waktu dengan penyesalan yang tidak ada habisnya. Kali ini, aku memilih diriku sendiri. Terima kasih ya Amma, sudah bertahan sejauh ini. Tenang saja, ada Allah kok. Jangan putus doa-doa baiknya. Gak akan rugi, insyaa Allah. Untuk semua hal yang tidak kamu adukan pada ayah, tidak pula kamu tangisi di makam ibu, dan hal-hal yang tidak kamu ceritakan pada adikmu, aku cuma mau bilang...
Orang-orang yang datang, pergi, dan kembali seperti ombak, apa yang akan ia katakan pada tungkai-tungkai yang disapunya lembut. Orang-orang yang datang, pergi, dan kembali layaknya angin, jawaban apa yang kan ia beri atas gigil yang ia sisakan di setiap hembusnya. Orang-orang yang datang, pergi, dan kembali seumpama hujan, apa yang ia bawa serta selain kenangan di setiap genangan karenanya. Orang-orang yang datang, pergi, dan kembali sesukanya, kekata apa yang layak ia terima dari sepasang mata yang tertinggal oleh waktu. (adakah selaksa senyum, atau puing-puing kesedihan?) *Yang tersisa dari hujan, kisi-kisi, dan soal matematika yang tak terselesaikan **Atas setiap canda dan debat ***Serta riuh kelas, yang kelak menjadi kenangan ****Smakes BP, 270216