Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2025

Catatan terakhir...

Blessed August

A kindly reminder for my self Entah pernah baca ini dimana, katanya rumus kehidupan sebagai seorang hamba adalah doa, ikhtiar, dan tawakal. Karena ikhtiar tanpa doa itu sombong, dan doa tanpa ikhtiar itu sama saja bohong. Lalu, setelah berikhtiar dan berdoa, biar Allah yang menetapkan hasil terbaiknya. Itulah bentuk tawakal. Tapi, ada satu hal yang harus berjalan beriringan dengan doa, ikhtiar, dan tawakal, yaitu sangka baik... yang muaranya takkan jauh-jauh dari syukur ataupun sabar, dan tidak ada kerugian di antara keduanya. Kalau bersyukur, Allah tambah nikmatmu, kalau bersabar kamu mendapat pahala, dan Allah bersamamu.  Berbaik sangkalah pada Allah bahwa semua ketetapan-Nya adalah yang terbaik, karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya.  Jangan pernah lepaskan sangka baikmu pada Allah, ya. ♥️🤗 Maros, 31 Agustus 2026 

Coretan Awam Am.Amma

Entah sejak kapan blog ini kunamai seperti judul di atas dengan tagline  sebab kata yang tak sanggup kulisankan itu enggan kutelan.  Entah sejak kapan pula blog ini selalu jadi pelarianku saat dunia terasa bising, saat kepalaku sangat berisik, saat tidak kutemukan telinga untuk mendengarkan, atau bahkan saat aku hanya iseng dan bosan. Blog ini, sejauh ini masih ada, menampung semua kekata di ujung jemariku. Aku bertanya-tanya, siapa yang lebih setia? Aku kepada blogku atau blogku kepadaku? Ah, sepertinya kami saling menyetia.  Tulisan-tulisan di blog ini memang awam, begitulah adanya. Meski awalnya aku ingin menjadi penulis buku, tak apa jika ternyata aku berakhir sebagai penulis blog (yang lebih mirip diary harian). Tak apa jika blog ini tak punya pembaca. Tak apa jika blog kini mulai tergantikan, dilupakan, bahkan ditinggalkan banyak orang. Aku memilih untuk tetap menulis di sini. Sebab dengan menulis, hatiku terasa lebih lapang dan hidup. Sebab menulis adalah obat. Ada...

Aku layak, Aku berharga.

Aku pernah merasa sakit, lebih tepatnya merasa tersakiti. Aku pernah merasa ditinggalkan, padahal aku sendiri yang mundur dengan jelas. Aku pernah merasa tidak berharga. Pertanyaan-pertanyaan penuh duri berkelindan di kepalaku. Apakah aku setidakberharga itu untuk diperjuangkan? Apakah aku setidaklayak itu untuk mendapatkan cinta yang tulus? Kurangku apa? Salahku dimana? Aku sudah belajar dan mengupayakan banyak hal, termasuk hatiku, tapi apa yang aku dapatkan?  Kemudian aku berpikir, sebenarnya validasi dari siapa yang kutunggu? Aku cukup dan aku berharga.  Aku sangat berarti untuk keluargaku, sahabatku, dan orang-orang yang ada di sekelilingku. Bagi diriku sendiri. Dan yang paling penting, aku sangaaaaat dicintai oleh Allah, pemilikku. Tempat pulangku. Amma, orang-orang yang dulu membuatmu menangis sesenggukan hanya tidak sanggup melihat cahayamu yang berkilau. Mereka menutup mata dan menghindar. Mereka menyerah dan memilih pergi tanpa menyelam lebih dulu mencari mutiara yan...