Pelajaran di usia dua puluh delapan tahun: Ayo kita cintai dan maafkan diri kita sendiri. Maafkan juga kesalahan orang lain, bukan karena kita pantas disakiti, tapi demi kelegaan dan ketenangan diri sendiri. Sadari bahwa kita hanya manusia. Aku, kamu, dia, mereka, semua berpotensi berbuat salah dan membuat kecewa. Kita bukan malaikat. Itulah kenapa Allah memberikan kita hati, akal, dan pikiran. Kita diberi pilihan mau memaafkan, mau mengikhlaskan, mau menerima dengan lapang, atau mau memelihara dendam dan kebencian. Kita diberi pilihan mau menjalani hidup dengan bahagia dan tenang atau membuang-buang waktu dengan penyesalan yang tidak ada habisnya. Kali ini, aku memilih diriku sendiri. Terima kasih ya Amma, sudah bertahan sejauh ini. Tenang saja, ada Allah kok. Jangan putus doa-doa baiknya. Gak akan rugi, insyaa Allah. Untuk semua hal yang tidak kamu adukan pada ayah, tidak pula kamu tangisi di makam ibu, dan hal-hal yang tidak kamu ceritakan pada adikmu, aku cuma mau bilang...
Entah sejak kapan blog ini kunamai seperti judul di atas dengan tagline sebab kata yang tak sanggup kulisankan itu enggan kutelan. Entah sejak kapan pula blog ini selalu jadi pelarianku saat dunia terasa bising, saat kepalaku sangat berisik, saat tidak kutemukan telinga untuk mendengarkan, atau bahkan saat aku hanya iseng dan bosan. Blog ini, sejauh ini masih ada, menampung semua kekata di ujung jemariku. Aku bertanya-tanya, siapa yang lebih setia? Aku kepada blogku atau blogku kepadaku? Ah, sepertinya kami saling menyetia. Tulisan-tulisan di blog ini memang awam, begitulah adanya. Meski awalnya aku ingin menjadi penulis buku, tak apa jika ternyata aku berakhir sebagai penulis blog (yang lebih mirip diary harian). Tak apa jika blog ini tak punya pembaca. Tak apa jika blog kini mulai tergantikan, dilupakan, bahkan ditinggalkan banyak orang. Aku memilih untuk tetap menulis di sini. Sebab dengan menulis, hatiku terasa lebih lapang dan hidup. Sebab menulis adalah obat. Ada...