Bismillah... Untuk setiap duka yang terasa panjang... Semoga Allah mudahkan kita melihat hikmah di baliknya. Untuk setiap luka yang diam-diam terasa… semoga Allah menjadikannya penggugur dosa. Untuk setiap sedih yang singgah tanpa diminta... semoga Allah menghitungnya sebagai doa yang tak sempat terucap. Untuk setiap tangis yang jatuh dalam sepi… semoga Allah menyimpannya sebagai pahala yang tak terlihat. Untuk setiap hati yang pernah terasa berat… semoga Allah menggantinya dengan ketenangan yang pelan-pelan datang. Untuk setiap langkah yang tertatih menahan perih… semoga Allah menjadikannya jalan pulang menuju hati yang lebih kuat. Untuk setiap hari yang dilewati dengan tabah… semoga Allah menghadirkan hari di mana kita tersenyum sambil berkata, “Terima kasih Yaa Allah... Ternyata aku bisa melewati semuanya.” ✨ Catatan 07 Ramadhan 1447H Maros, 25 Februari 2026
DIRGAHAYU INDONESIAKU :)
Tujuh puluh tahun paska kemerdekaan Indonesia, apa sebenarnya arti dari kemerdekaan itu? Merdeka adalah terbebas dari belenggu penjajah, bukan begitu? Merdeka identik dengan kebebasan, bukan begitu? Merdeka adalah luapan kebahagiaan atas sebuah perjuangan, dan rupa-rupa definisi kemerdekaan dari sudut pandang yang berbeda.
Lantas, dari lain sisi ada pula yang mempertanyakan kemurniannya, memilih mengamat, mengkritik, dan bahkan abai, tak peduli. Well, mungkin itu yang namanya hak asasi manusia.
Tentang Indonesia, apapun yang ada di dalamnya, kita menjadi bagian darinya. Meski tak kupungkiri kalau sering pula terlontar kritikan dari mulutku, mestinya begini, harusnya begitu, bla bla bla. Mengkritik bukan hal yang sulit, bukan? Yang sulit adalah bagaimana kita harus mengintrospeksi diri.
Sudahkah kita menjadi warga yang baik?
Saya pribadi: belum. KTP saja sampai sekarang belum ada. Padahal, sebelum masuk 17 tahun, saya menggebu sekali mau punya KTP, eh pas tahu sistemnya harus ke sini, ke sana, ini itu, saya jadi MALAS duluan. See, pemalas seperti saya, bisakah digolongkan dalam warga negara yang baik? Setelah KTP, masih banyak lagi yang mesti diurus, kartu SIM, misalnya. Kemudian, jika masih diberi umur panjang dan sudah punya kerja, mesti urus kartu NPWP, dan lain lain.
Berbicara tentang KTP dan kakak-kakaknya rasanya sudah terlalu jauh, ya? Kenapa tidak dimulai dari hal sederhana saja. Seperti membuang sampah pada tempatnya mungkin. Look at the river! Betapa banyak sesampahan yang mengapung. Tanpa bermaksud menggurui, mari bersama menjaga Indonesia kita, dari hal kecil saja dulu, membantu sampah-sampah pulang ke rumahnya. Ala bisa karena biasa, right? :)
Oh iya, persembahan dari Pemuda Maros Baik, pagi tadi sebelum Upacara Bendera ada pementasan Drama Kolosal bertajuk Perjuangan Di Butta Salewangan. Lengkapnya, sila dibaca. Sebab saya sendiri tak sempat menyaksikannya secara langsung. :')
Terakhir, satu dari banyak harapanku untuk negeri ini, semoga moral Bangsa Indonesia mengalami perbaikan. Sila dimaknai :)
Maros, 17 Agustus 2015

Semogaa!! Untuk Indonesia yg lebih baiikk. :)
BalasHapus