Langsung ke konten utama

Catatan terakhir...

Twenty Eight

Pelajaran di usia dua puluh delapan tahun: Ayo kita cintai dan maafkan diri kita sendiri. Maafkan juga kesalahan orang lain, bukan karena kita pantas disakiti, tapi demi kelegaan dan ketenangan diri sendiri. Sadari bahwa kita hanya manusia. Aku, kamu, dia, mereka, semua berpotensi berbuat salah dan membuat kecewa. Kita bukan malaikat. Itulah kenapa Allah memberikan kita hati, akal, dan pikiran. Kita diberi pilihan mau memaafkan, mau mengikhlaskan, mau menerima dengan lapang, atau mau memelihara dendam dan kebencian. Kita diberi pilihan mau menjalani hidup dengan bahagia dan tenang atau membuang-buang waktu dengan penyesalan yang tidak ada habisnya.  Kali ini, aku memilih diriku sendiri. Terima kasih ya Amma, sudah bertahan sejauh ini. Tenang saja, ada Allah kok. Jangan putus doa-doa baiknya. Gak akan rugi, insyaa Allah.  Untuk semua hal yang tidak kamu adukan pada ayah, tidak pula kamu tangisi di makam ibu, dan hal-hal yang tidak kamu ceritakan pada adikmu, aku cuma mau bilang...

Tujuh (puluh)

DIRGAHAYU INDONESIAKU :)
Tujuh puluh tahun paska kemerdekaan Indonesia, apa sebenarnya arti dari kemerdekaan itu? Merdeka adalah terbebas dari belenggu penjajah, bukan begitu? Merdeka identik dengan kebebasan, bukan begitu? Merdeka adalah luapan kebahagiaan atas sebuah perjuangan, dan rupa-rupa definisi kemerdekaan dari sudut pandang yang berbeda. 

Lantas, dari lain sisi ada pula yang mempertanyakan kemurniannya, memilih mengamat, mengkritik, dan bahkan abai, tak peduli. Well, mungkin itu yang namanya hak asasi manusia. 

Tentang Indonesia, apapun yang ada di dalamnya, kita menjadi bagian darinya. Meski tak kupungkiri kalau sering pula terlontar kritikan dari mulutku, mestinya begini, harusnya begitu, bla bla bla. Mengkritik bukan hal yang sulit, bukan? Yang sulit adalah bagaimana kita harus mengintrospeksi diri.  

Sudahkah kita menjadi warga yang baik? 

Saya pribadi: belum. KTP saja sampai sekarang belum ada. Padahal, sebelum masuk 17 tahun, saya menggebu sekali mau punya KTP, eh pas tahu sistemnya harus ke sini, ke sana, ini itu, saya jadi MALAS duluan. See, pemalas seperti saya, bisakah digolongkan dalam warga negara yang baik? Setelah KTP, masih banyak lagi yang mesti diurus, kartu SIM, misalnya. Kemudian, jika masih diberi umur panjang dan sudah punya kerja, mesti urus kartu NPWP, dan lain lain.

Berbicara tentang KTP dan kakak-kakaknya rasanya sudah terlalu jauh, ya? Kenapa tidak dimulai dari hal sederhana saja. Seperti membuang sampah pada tempatnya mungkin. Look at the river! Betapa banyak sesampahan yang mengapung. Tanpa bermaksud menggurui, mari bersama menjaga Indonesia kita, dari hal kecil saja dulu, membantu sampah-sampah pulang ke rumahnya. Ala bisa karena biasa, right? :)

Oh iya, persembahan dari Pemuda Maros Baik, pagi tadi sebelum Upacara Bendera ada pementasan Drama Kolosal bertajuk Perjuangan Di Butta Salewangan. Lengkapnya, sila dibaca. Sebab saya sendiri tak sempat menyaksikannya secara langsung. :') 

Terakhir, satu dari banyak harapanku untuk negeri ini, semoga moral Bangsa Indonesia mengalami perbaikan. Sila dimaknai :) 


Maros, 17 Agustus 2015

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sehimpun Luka

Sebab pada bagian yang mana lagi akan kau tanamkan duka Sedang lahan-lahan hati disesaki luka Dan daun-daun kenangan rimbun berjatuhan Sebab pada tangkai yang mana lagi akan kau petik buah-buah ranum kebahagiaan Sedang tanahku gersang Meski hujan hilir-mudik mengguyur Sebab pada pohon yang mana lagi kau akan sembunyi Sedang jemari letih memangkas perih Dan angin sibuk meniupkan bayangmu Sebab pada akar yang mana lagi kau akan menyandung tungkai Sedang rapuhnya kian kerontang Dan aku tak lagi peduli *Maros, 190616

@ammasyam_

@ammasyam_ Akun Instagramku kehapus, hiksss 😭😭 Let me say good bye to my Instagram account @ammasyam_ Huuffftttt Aku lagi shift pagi di tanggal merah hari jumat, dan kondisi IGD sangat hectic, pasien terus berdatangan, mayoritas anak-anak yang sulit dipasang infus. Lalu setelah itu ada pasien gawat dengan kondisi kesadaran menurun. Aku melihat dari balik loket apotek ketegangan yang berubah jadi isak tangis saat qadarullah pasien gawat tersebut dinyatakan meninggal dunia.  Ada perasaan perih yang bercampur aduk mendengar suara tangis itu. Sementara resep pasien rawat inap masih terus masuk di aplikasi SIMRS dan pelayanan harus tetap berjalan. Di sela waktu sebelum sholat Dzuhur aku menyempatkan diri membuka hape, dan tada... ada notif dari Instagram kalau akunku ditangguhkan. Karena sedang hectic, kuabaikanlah notif itu. Nanti saja di rumah.  Diperjalanan pulang, aku melipir ke minimarket, dan saat mau keluar aku baru sadar kalau di luar sedang hujan deras. ...

Surat untuk Kak Iis yang jauuuh di sana

Hai kak! Di dunia lagi banyak trend baru loh.  Dulu tuh, camping, mendaki, menurutku sesuatu yg susah buat dilakuin, tapi hari-hari ini jadi sering lihat postingan orang-orang lagi hiking, wisata alam juga makin banyak yang bisa di-explore. Terus ada juga trend jogging yang saking nge-trend-nya tuh sampai ada jokinya kak. Joki strava namanya, orang lain yang lari, tapi kita yg ngeklaim dan posting pace strava-nya wkwk. Trend tiktok yang dari dulu memang sudah ada, sekarang makin banyak gayanya. Dari yang stecu-stecu, velocity, hmm apa lagi di', banyak dek pokoknya. Kayaknya tiap bulan tuh, adaaa aja trend tiktokan baru. Terus ini yang paling canggih menurutku kak, AI. Dibaca ei-ai. Semacam google tapi dia lebih hebat, bahkan bisa visualisasikan gambar dan video cuma dari deksripsi yang kita ketik. Agak ngeri dikit sih yah kalau di tangan orang yang salah. Di IG ku juga sering muncul isu-isu mental health, makin banyak orang yang aware. Terus, kalau dulu kita cuma tahu empat jenis k...