Langsung ke konten utama

Catatan terakhir...

:")

Rabbi... atur aja gimana baiknya :')  Ada banget sedihnya, ada juga senangnya. Ada takutnya, tapi ada juga harapannya.  Berikan yang terbaik menurut ta' untuk semua Yaa Allah.  Hasbiyallahu wani'mal wakiil. Ni'mal mawla wanni'mannashir. La hawla wa la quwwata illa billah.  Maros, 13 Mei 2026. 

Semoga Bukan yang Terakhir Kali


"Perpisahan adalah Awal Pertemuan yang Lebih Baik"




April 2012 kemarin, sebuah pertemuan dalam peluk Forum Lingkar Pena , bersama teman-teman yang lain, kami diberi kesempatan tuk bersua dengan para pejuang pena, pengukir kata beribu makna. Kakak-Kakak FLP Maros. 


And The Story Begin....


Semua berawal dari hari Jum'at itu, *lupa tanggal*. Setelah paparan materi, seseorang yang seingat saya juga sebagai pembawa acara hari itu, membacakan sebuah cerpen. Bukan karyanya memang, tapi cukup membuat saya terkesima. Kak Iis, waktu itu membacakan salah satu cerpen, entah antologi apa dan siapa penulisnya. Yang jelas terekam adalah, Kak Iis yang membacanya.

Menarik, sangat. Alur cerita dan pembacaannya. Dalam hati saya berdecak kagum, mengukir kata 'hebat' dalam benak, Diam-diam juga ingin seperti dia -- Kak Iis. Selalu ada yang istimewa dari yang pertama. Maka jangan salahkan ingatan ini yang tak luput mengabaikannya, tak kuasa menghapus dari ingatan momen itu. 

Kukira, kala itu adalah pertama dan terakhir bertemu. Namun kenyataan berkata lain. Allah masih memperkenankan kita bertemu, dalam sekmen-sekmen FLP Camar. Kak Iis terus mengompori kami agar berkarya. Giat menoreksi karya-karya awam dari sekumpulan anak SMP yang masih labil itu.
Membaca karya Kak Iis sama saja dengan terbang tinggi lalu jatuh dalam waktu sama. Berangan bisa sepertinya, berkarya imajinatif, namun nyali itu menciut kembali.

Entah berapa lembar waktu yang kita lalui, dan aku lewatkan dalam kebersamaan FLP Camar. Tidak banyak memang, tapi sungguh, itu berkesan. Tak dapat kurinci, namun kepingannya masih tersimpan elok. Al-Markaz, PTB, dan.... entahlah, dua tempat itu menjadi saksi kebersamaan The Camars.
Oh iya, Kak Is, kenyataan 'Orang Enrekang' di seminar kemarin itu entah kenapa seakan menantangku untuk mencampur kata dalam tulisan tentang Enrekang. Hal itu ingin kusampaikan, kemarin. Tapi kebersamaan, canda tawa, dan kehangatan bersama The Camars kemarin membuatku lupa mengutarakannya. Hehehe....

Hingga waktu kembali menggertak. Kenyataan menghempas mimpi. Bahwa kebersamaan itu hanya sementara. Dua hari lampau, kuharap itu bukan penutup perjumpaan kita. Bukan akhir bersuanya kita dalam pembukaan Sekmen berkesan itu. 

Perpisahan adalah awal pertemuan yang lebih baik. Untaian itu kubenarkan dalam hati, namun raga ini seakan menolak. Membuat perangai labil itu kembali berkuasa.Sebab inilah yang kutakutkan, perpisahan di balik pertemuan yang indah. Sebab kenangan selalu menghias mimpi. Kata Kak Iis, tidak akan kembali ke Maros kecuali ada hal urgent. Itu berarti ruang dan waktu berkuasa memisahkan kita. Saya. Kak Iis. Dan The Camars. 

Maka sesi poto-poto kemarin, kuharap bukan yang terakhir. Menaruh harap agar Allah berkenan mempertemukan kita dalam keadaan yang indah. Lebih indah. Jauh lebih indah. Semoga... Aamiin, Allahumma aamiin.




Dalam atmosfer kaku, saya mungkin akan menyapa dengan lisan, Kak Aisyah. Tapi, keadaan melunakkannya seiring berputarnya waktu. Maka seiring berputarnya waktu pula, saya berharap tidak ada kekakuan yang meraja di antara kita. Saya. Kak Iis. Dan The Camars. Karena itu, tak bermaksud melahirkan kekakuan, apalagi mengabadikannya, izinkan saya untuk bilang,


"Daadaaa babay, Kak Aisyah. Semoga kenangan bersama dengan senang hati Kak Aisyah kenang, sebagaimana saya. Dan jangan lupa, -ingatkan saya- untuk menagih janji Kak Aisyah, menuntun saya dalam berkarya."



Salam hangat, kangen, bakal rindu, dan kawang-kawang na,

Amma


Komentar

  1. aaaaaaaamiiiinnnnn... :') akhirnya bisa meka komennnn di blogmuhhhh huhuuhu kusukanya yeyeye lalala

    BalasHapus
  2. Hehe... syukurlah k' :D kmrin2 entah knpa nda bisa. Sdah ku kacca2 pengaturannya tempo hari.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat untuk Kak Iis yang jauuuh di sana

Hai kak! Di dunia lagi banyak trend baru loh.  Dulu tuh, camping, mendaki, menurutku sesuatu yg susah buat dilakuin, tapi hari-hari ini jadi sering lihat postingan orang-orang lagi hiking, wisata alam juga makin banyak yang bisa di-explore. Terus ada juga trend jogging yang saking nge-trend-nya tuh sampai ada jokinya kak. Joki strava namanya, orang lain yang lari, tapi kita yg ngeklaim dan posting pace strava-nya wkwk. Trend tiktok yang dari dulu memang sudah ada, sekarang makin banyak gayanya. Dari yang stecu-stecu, velocity, hmm apa lagi di', banyak dek pokoknya. Kayaknya tiap bulan tuh, adaaa aja trend tiktokan baru. Terus ini yang paling canggih menurutku kak, AI. Dibaca ei-ai. Semacam google tapi dia lebih hebat, bahkan bisa visualisasikan gambar dan video cuma dari deksripsi yang kita ketik. Agak ngeri dikit sih yah kalau di tangan orang yang salah. Di IG ku juga sering muncul isu-isu mental health, makin banyak orang yang aware. Terus, kalau dulu kita cuma tahu empat jenis k...

@ammasyam_

@ammasyam_ Akun Instagramku kehapus, hiksss 😭😭 Let me say good bye to my Instagram account @ammasyam_ Huuffftttt Aku lagi shift pagi di tanggal merah hari jumat, dan kondisi IGD sangat hectic, pasien terus berdatangan, mayoritas anak-anak yang sulit dipasang infus. Lalu setelah itu ada pasien gawat dengan kondisi kesadaran menurun. Aku melihat dari balik loket apotek ketegangan yang berubah jadi isak tangis saat qadarullah pasien gawat tersebut dinyatakan meninggal dunia.  Ada perasaan perih yang bercampur aduk mendengar suara tangis itu. Sementara resep pasien rawat inap masih terus masuk di aplikasi SIMRS dan pelayanan harus tetap berjalan. Di sela waktu sebelum sholat Dzuhur aku menyempatkan diri membuka hape, dan tada... ada notif dari Instagram kalau akunku ditangguhkan. Karena sedang hectic, kuabaikanlah notif itu. Nanti saja di rumah.  Diperjalanan pulang, aku melipir ke minimarket, dan saat mau keluar aku baru sadar kalau di luar sedang hujan deras. ...

Bagaimana ini (2)

123 hari sejak nenek berpulang, dan aku masih sering menangis. Di pagi dan siang hari saat aku seorang diri di rumah atau malam sebelum tidur. Banyak hal yang mengingatkanku pada nenek. Ingatan tentang hari-hari terakhir beliau, kebaikan-kebaikannya sepanjang hidupku, dan ketabahannya yang ternyata jauh lebih besar dari yang kuduga. Hatiku sedih dan terenyuh di waktu yang sama.  Rasanya sesak, tetapi aku tidak punya pilihan lain selain mendoakannya.  Bagaimana ini? Aku takut rinduku, air mataku, dan perasaan sedih ini jadi menyusahkan beliau di sana. Aku bukannya tidak ikhlas. Aku hanya rindu.. Rindu yang berakhir dengan air mata dan rasa sedih. Ternyata, kehilangan karena kematian adalah luka yang akan dibawa seumur hidup. Bukan karena kita tidak ikhlas, tetapi karena kesadaran bahwa kita tidak akan bertemu lagi di dunia ini. Bahwa kita tidak bisa memeluknya lebih lama. Bahwa kita mulai lupa aroma tubuhnya. Luka itu besar dan menganga, namun tidak terlihat. Entah seratus, ser...