Pelajaran di usia dua puluh delapan tahun: Ayo kita cintai dan maafkan diri kita sendiri. Maafkan juga kesalahan orang lain, bukan karena kita pantas disakiti, tapi demi kelegaan dan ketenangan diri sendiri. Sadari bahwa kita hanya manusia. Aku, kamu, dia, mereka, semua berpotensi berbuat salah dan membuat kecewa. Kita bukan malaikat. Itulah kenapa Allah memberikan kita hati, akal, dan pikiran. Kita diberi pilihan mau memaafkan, mau mengikhlaskan, mau menerima dengan lapang, atau mau memelihara dendam dan kebencian. Kita diberi pilihan mau menjalani hidup dengan bahagia dan tenang atau membuang-buang waktu dengan penyesalan yang tidak ada habisnya. Kali ini, aku memilih diriku sendiri. Terima kasih ya Amma, sudah bertahan sejauh ini. Tenang saja, ada Allah kok. Jangan putus doa-doa baiknya. Gak akan rugi, insyaa Allah. Untuk semua hal yang tidak kamu adukan pada ayah, tidak pula kamu tangisi di makam ibu, dan hal-hal yang tidak kamu ceritakan pada adikmu, aku cuma mau bilang...
Semoga kamu adalah orang yang selalu menanyakan dan mengutamakan perasaanku lebih dulu.
Semoga kamu selalu bersedia mendengarkan cerita dan dua puluh ribu kata perhariku.
Semoga kamu menyayangiku dengan bukti dan tindakan.
Semoga kamu bisa mengerti betapa berartinya tidur siang bagi aku yang chefalgia.
Semoga kamu adalah orang yang saat pulang kerja selalu bawa hadiah kecil untukku.
Semoga kamu selalu bisa memilih makanan yang tepat dan enak saat aku bilang terserah.
Semoga kamu selalu jadi paparazzi pribadiku yang selalu take foto dan video candidku dalam pose yang cantik, hahaha...
Semoga kamu selalu bersyukur dan memberi ridho atas diriku.
Semoga kamu suka melucu untukku dan membuatku tertawa.
Semoga kamu orang yang rapih dan disiplin tapi mendisiplinkanku dengan cinta, hehehe.
Semoga kamu tak sungkan mengerjakan urusan rumah tangga: mencuci, melipat, menyapu, menyetrika, memasak. Bukan apa-apa, semoga kamu menjadi teladan yang baik untuk anak-anak kita.
Semoga kamu pintar nyetir mobil sama motor, dan selalu bilang "aku antar ya", hehehe.
Semoga kamu dan kedewasaanmu bisa mengimbangi diriku yang kadang childish.
Semoga kamu dengan kelembutanmu bisa meluluhkan aku yang keras kepala.
Semoga kamu dengan bacaan qur'anmu yang fasih dan tartil senantiasa membangunkanku untuk tahajjud bersama.
Semoga kamu mengerti ilmu tahsin dan tajwid, lalu ajari aku mengaji dengan baik dan benar. (yang ini ada tambahan revisi: semoga aku juga makin baik ilmu tahsin dan tajwidku, so kita bisa saling membenarkan bacaan, dan mengajari anak-anak kita kelak, aamiin.)
Semoga kamu dimudahkan Allah untuk jadi qowwam yang baik lagi bijaksana untuk keluarga kita.
Semoga kamu adalah kepala sekolah dengan kurikulum tauhid dan sesuai fitrah bagi anak-anak kita. Aku jadi madrasah pertama, kamu kepala sekolahnya. Ya kan?
Semoga kamu dan keluargaku bisa saling menerima dengan penuh kesyukuran.
Semoga kamu bersabar dalam bakti kepada orangtuamu, lalu kita saling mendukung.
Semoga kamu berbahagia selalu dan lapang hatimu.
Semoga kamu dijaga dan diberi sebaik-baik kesehatan oleh Allah dimanapun kamu sekarang.
Semoga kamu bisa melengkapi dan memperbaiki visi misi dan mimpiku yang banyak ini.
Semoga kamu mencintaiku karena Allah.
Semoga kamu-aku menjadi kita, lalu menjadi ayah-ibu, kakek-nenek.
Semoga kita saling mencintai-menyayangi-meridhoi karena Allah.
Semoga kita saling melengkapi satu sama lain. Berlomba dalam kebaikan, mengejar surga dan ridha Allah dalam ikatan akad mitsaqon ghalizah.
Aamiin... Allahumma Aamiin...
Sampai jumpa dipertemuan terbaik kita.
Siapapun kamu, yang namanya masih Allah rahasiakan.
Jika ada jodohku yang Allah siapakan di dunia ini dan semoga kita berjodoh sampai ke surga, maka tulisan ini tribute to him, nanti akan kutunjukkan kalau sudah dipertemukan sama Allah.
Maros, 05 Maret 2024
Segitu dulu semoga kamu-nya. Semoga doa-doa baikku untukmu di-aamiinkan sama malaikat, kemudian malaikat mendoakan untukku doa-doa baik yang sama. Aamiin.
Next insyaa Allah semoga kita. :) <3
Komentar
Posting Komentar