@ammasyam_ Akun Instagramku kehapus, hiksss ðŸ˜ðŸ˜ Let me say good bye to my Instagram account @ammasyam_ Huuffftttt Aku lagi shift pagi di tanggal merah hari jumat, dan kondisi IGD sangat hectic, pasien terus berdatangan, mayoritas anak-anak yang sulit dipasang infus. Lalu setelah itu ada pasien gawat dengan kondisi kesadaran menurun. Aku melihat dari balik loket apotek ketegangan yang berubah jadi isak tangis saat qadarullah pasien gawat tersebut dinyatakan meninggal dunia. Ada perasaan perih yang bercampur aduk mendengar suara tangis itu. Sementara resep pasien rawat inap masih terus masuk di aplikasi SIMRS dan pelayanan harus tetap berjalan. Di sela waktu sebelum sholat Dzuhur aku menyempatkan diri membuka hape, dan tada... ada notif dari Instagram kalau akunku ditangguhkan. Karena sedang hectic, kuabaikanlah notif itu. Nanti saja di rumah. Diperjalanan pulang, aku melipir ke minimarket, dan saat mau keluar aku baru sadar kalau di luar sedang hujan deras. ...
Alif : "Kulemparki hapenu nah!" (Dengan gaya mengancam, siap melempar ke atas kasur)
Saya : Lemparmi kalo berani! (Menatap menantang, dalam hati bilang: nda mungkin berani na lempar. Kalaupun na lempar nda papaji, empukji tempat mendaratnya)
Saya : Lemparmi kalo berani! (Menatap menantang, dalam hati bilang: nda mungkin berani na lempar. Kalaupun na lempar nda papaji, empukji tempat mendaratnya)
Lalu
.....
.....
Bruukkk
***
Jum'at ba'da subuh, hapeku yang memang sudah rusak dan terlalu lelah itu menyerah. Padahal ia hanya terhempas dari tanganku dengan jarak 5 sentimeter di atas lantai.
Aku sadar, ia sudah cukup menderita dengan keekstrimanku. Jatuh, bangun. Terjatuh, terbangun. Dijatuhkan, dibangunkan, dan terjatuh lagi. Pokoknya berkali-kali. Sering juga kupakai sambil dicharge, atau sampai baterainya low total. Kasus terakhir sebelum hapeku yang setia itu menunjukkan tanda-tanda kesakitannya adalah ketika dilemparkan oleh Alif ke kasur lalu terjatuh. Tidak, lebih tepatnya melompatkan dan menjatuhkan diri dari kasur ke lantai. Saat itulah dua bintik hitam itu muncul. Sedikit saja, kira-kira setengah sampai satu senti. Tapi lama-kelamaan, ia melebar, semakin kurang ajar, dan tak pantas lagi dinamakan bintik.
Lalu, di kamar rumah sakit tempat mama dirawat, ia kucharge di atas nakas. Karena kabel yang tak sampai, kuganjal dengan tas pakaiannya mama. Naas, ia kembali terjatuh lima menit setelahnya. Ckckck. Noda hitam yang mencemari layar hapeku itu semakin merajalela. Ia memenuhi bagian kiri layar hapeku, membuat siapapun yang memakainya (saya, aku, gue, amma, rahmah) jadi kesulitan plus jengkel, hiks.(T_T)
Iya, aku yang salah. Tidak ada yang pantas disalahkan kecuali si empunya hape. Andai saja hari itu Alif tak kubuat kesal, dia pasti tidak akan melemparkannya. Seandainya kutak ceroboh, tentulah takkan ada insiden jatuh lagi di rumah sakit. Juga, salahku terburu-buru subuh itu, membuat ia terjatuh dan tak bangun lagi. Aku meminta maaf pada diriku berkali-kali, setelah menggerutu yang juga berkali-kali.
Maros, 29 Juni 2018
***
Nemu ini di draft, belum selesai sih, tapi biarlah kuposting, supaya kelak kalau baca ini lagi saya jadi ingat bagaimana susahnya ketika tugas sedang banyak-banyaknya dan hape lagi rusak. Supaya ingat juga rasanya ketika momen lebaran tapi tidak punya hape untuk foto-foto. Supaya ingat bagaimana rasanya bersyukur atas apa yang sudah dimiliki. Baca ini sambil senyam-senyum sembari mengingat Redmi 2ku yang kini bertengger cantik di laci lemari. Lain kali, harus lebih hati-hati lagi ya Amma :)
Komentar
Posting Komentar