Bismillah... Untuk setiap duka yang terasa panjang... Semoga Allah mudahkan kita melihat hikmah di baliknya. Untuk setiap luka yang diam-diam terasa… semoga Allah menjadikannya penggugur dosa. Untuk setiap sedih yang singgah tanpa diminta... semoga Allah menghitungnya sebagai doa yang tak sempat terucap. Untuk setiap tangis yang jatuh dalam sepi… semoga Allah menyimpannya sebagai pahala yang tak terlihat. Untuk setiap hati yang pernah terasa berat… semoga Allah menggantinya dengan ketenangan yang pelan-pelan datang. Untuk setiap langkah yang tertatih menahan perih… semoga Allah menjadikannya jalan pulang menuju hati yang lebih kuat. Untuk setiap hari yang dilewati dengan tabah… semoga Allah menghadirkan hari di mana kita tersenyum sambil berkata, “Terima kasih Yaa Allah... Ternyata aku bisa melewati semuanya.” ✨ Catatan 07 Ramadhan 1447H Maros, 25 Februari 2026
| Source : teen.co.id\ |
Aku tidak suka kucing. Beberapa kali aku harus menahan malu karena ulahnya yang entah cari perhatian atau memang butuh kasih sayang. Seekor kucing pernah masuk ke kelasku, aku ingat betul kejadiaanya. Pelajaran matematika dengan kelas yang sedang wangi-wanginya karena kami baru saja selesai jumat bersih. Aku yang paling pertama menyadari dan mengawasi gerak-gerik si kucing dengan penuh perasaan was-was, meski tetap jaga sikap karena kami sedang diberi soal latihan. Dan kucing itu seenak jidatnya melompat ke atas mejaku. Terkejut? Tentu saja. Seakan mengalahkan kecepatan cahaya, dengan sigap aku beranjak meninggalkan tempat dudukku. Tak lupa dengan jeritan ketakutan dan yaah, kehebohanpun terjadi. Teman-teman dan bu guru terkejut. Anehnya mereka malah tertawa ketika aku dengan bodohnya masih sibuk mengatur nafas. Beberapa teman, meski susah payah menahan tawanya datang merangkul dan menenangkanku. Sementara teman lainnya, sambil memegang perutnya ia mengusir si kucing.
Masih seputar masa SMPku, pernah, ketika sedang bertamu di rumah Ayu, aku kembali dibuat malu oleh kucing peliharaannya. Tidak, lebih tepatnya, aku lagi-lagi mempermalukan diriku sendiri dengan keterkejutan yang sama karena dilompati kucing. Dan dengan tidak anggunnya naik ke atas kursi, berdiri pula. -_-
Aku pernah dilompati Muezza, kucing peliharaan kak Muli, ketika dengan jahilnya teman-temanku melempar bola mainannya ke arahku. Aku pernah berlari mengelilingi lapangan perkemahan hanya karena temanku lagi-lagi menjahiliku dan mengejarku dengan anak kucing di tangannya. Dan masih banyak kejadian lain yang seharusnya bisa saja tidak terjadi andai aku suka kucing.
Aku tidak suka kucing dan juga anak kucing yang suka mengikutiku kemana-mana. Aku tidak suka kucing sejak aku masih kecil, sejak masih di bangku sekolah dasar hingga sekarang. Dia ada di seminar-seminar bahkan di depan pintu kosku. Mengeong dan membuatku merinding ketakutan, bahkan terlambat ke kampus. Aku tidak suka kucing. Kenapa selalu meminta lebih ketika sekali dua kali diberi makan karena rasa iba. Dan aku tidak suka, kenapa aku harus tidak suka kucing ketika Rasulullah begitu menyayanginya? Ketika teman-temanku dengan entengnya mengusap lembut punggungnya. Ketika di sekret Gamais, bahkan ada kucing yang menjadi primadona dan rebutan teman-temanku. Mengapa aku harus tidak suka? Kenapa aku harus tidak suka kucing sedangkan sahabat-sahabatku, bahkan murabbiyahku menjadikan kucing seperti saudaranya sendiri.
Aku tidak suka kucing, apa itu sebuah kejahatan?
Aku takut kucing, bagaimana mengenyahkan ketakutan itu?
Aku tidak suka kucing, tapi aku tak membencinya.
***
Makassar, 08 Agustus 2018
Komentar
Posting Komentar