Langsung ke konten utama

Catatan terakhir...

:")

Rabbi... atur aja gimana baiknya :')  Ada banget sedihnya, ada juga senangnya. Ada takutnya, tapi ada juga harapannya.  Berikan yang terbaik menurut ta' untuk semua Yaa Allah.  Hasbiyallahu wani'mal wakiil. Ni'mal mawla wanni'mannashir. La hawla wa la quwwata illa billah.  Maros, 13 Mei 2026. 

D-3 : Kucing

Source : teen.co.id\
Aku tidak suka kucing. Beberapa kali aku harus menahan malu karena ulahnya yang entah cari perhatian atau memang butuh kasih sayang. Seekor kucing pernah masuk ke kelasku, aku ingat betul kejadiaanya. Pelajaran matematika dengan kelas yang sedang wangi-wanginya karena kami baru saja selesai jumat bersih. Aku yang paling pertama menyadari dan mengawasi gerak-gerik si kucing dengan penuh perasaan was-was, meski tetap jaga sikap karena kami sedang diberi soal latihan. Dan kucing itu seenak jidatnya melompat ke atas mejaku. Terkejut? Tentu saja. Seakan mengalahkan kecepatan cahaya, dengan sigap aku beranjak meninggalkan tempat dudukku. Tak lupa dengan jeritan ketakutan dan yaah, kehebohanpun terjadi. Teman-teman dan bu guru terkejut. Anehnya mereka malah tertawa ketika aku dengan bodohnya masih sibuk mengatur nafas. Beberapa teman, meski susah payah menahan tawanya datang merangkul dan menenangkanku. Sementara teman lainnya, sambil memegang perutnya ia mengusir si kucing. 

Masih seputar masa SMPku, pernah, ketika sedang bertamu di rumah Ayu, aku kembali dibuat malu oleh kucing peliharaannya. Tidak, lebih tepatnya, aku lagi-lagi mempermalukan diriku sendiri dengan keterkejutan yang sama karena dilompati kucing. Dan dengan tidak anggunnya naik ke atas kursi, berdiri pula. -_-

Aku pernah dilompati Muezza, kucing peliharaan kak Muli, ketika dengan jahilnya teman-temanku melempar bola mainannya ke arahku. Aku pernah berlari mengelilingi lapangan perkemahan hanya karena temanku lagi-lagi menjahiliku dan mengejarku dengan anak kucing di tangannya. Dan masih banyak kejadian lain yang seharusnya bisa saja tidak terjadi andai aku suka kucing.

Aku tidak suka kucing dan juga anak kucing yang suka mengikutiku kemana-mana. Aku tidak suka kucing sejak aku masih kecil, sejak masih di bangku sekolah dasar hingga sekarang. Dia ada di seminar-seminar bahkan di depan pintu kosku. Mengeong dan membuatku merinding ketakutan, bahkan terlambat ke kampus. Aku tidak suka kucing. Kenapa selalu meminta lebih ketika sekali dua kali diberi makan karena rasa iba. Dan aku tidak suka, kenapa aku harus tidak suka kucing ketika Rasulullah begitu menyayanginya? Ketika teman-temanku dengan entengnya mengusap lembut punggungnya. Ketika di sekret Gamais, bahkan ada kucing yang menjadi primadona dan rebutan teman-temanku. Mengapa aku harus tidak suka? Kenapa aku harus tidak suka kucing sedangkan sahabat-sahabatku, bahkan murabbiyahku menjadikan kucing seperti saudaranya sendiri.

Aku tidak suka kucing, apa itu sebuah kejahatan?
Aku takut kucing, bagaimana mengenyahkan ketakutan itu? 
Aku tidak suka kucing, tapi aku tak membencinya.

***

Makassar, 08 Agustus 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat untuk Kak Iis yang jauuuh di sana

Hai kak! Di dunia lagi banyak trend baru loh.  Dulu tuh, camping, mendaki, menurutku sesuatu yg susah buat dilakuin, tapi hari-hari ini jadi sering lihat postingan orang-orang lagi hiking, wisata alam juga makin banyak yang bisa di-explore. Terus ada juga trend jogging yang saking nge-trend-nya tuh sampai ada jokinya kak. Joki strava namanya, orang lain yang lari, tapi kita yg ngeklaim dan posting pace strava-nya wkwk. Trend tiktok yang dari dulu memang sudah ada, sekarang makin banyak gayanya. Dari yang stecu-stecu, velocity, hmm apa lagi di', banyak dek pokoknya. Kayaknya tiap bulan tuh, adaaa aja trend tiktokan baru. Terus ini yang paling canggih menurutku kak, AI. Dibaca ei-ai. Semacam google tapi dia lebih hebat, bahkan bisa visualisasikan gambar dan video cuma dari deksripsi yang kita ketik. Agak ngeri dikit sih yah kalau di tangan orang yang salah. Di IG ku juga sering muncul isu-isu mental health, makin banyak orang yang aware. Terus, kalau dulu kita cuma tahu empat jenis k...

@ammasyam_

@ammasyam_ Akun Instagramku kehapus, hiksss 😭😭 Let me say good bye to my Instagram account @ammasyam_ Huuffftttt Aku lagi shift pagi di tanggal merah hari jumat, dan kondisi IGD sangat hectic, pasien terus berdatangan, mayoritas anak-anak yang sulit dipasang infus. Lalu setelah itu ada pasien gawat dengan kondisi kesadaran menurun. Aku melihat dari balik loket apotek ketegangan yang berubah jadi isak tangis saat qadarullah pasien gawat tersebut dinyatakan meninggal dunia.  Ada perasaan perih yang bercampur aduk mendengar suara tangis itu. Sementara resep pasien rawat inap masih terus masuk di aplikasi SIMRS dan pelayanan harus tetap berjalan. Di sela waktu sebelum sholat Dzuhur aku menyempatkan diri membuka hape, dan tada... ada notif dari Instagram kalau akunku ditangguhkan. Karena sedang hectic, kuabaikanlah notif itu. Nanti saja di rumah.  Diperjalanan pulang, aku melipir ke minimarket, dan saat mau keluar aku baru sadar kalau di luar sedang hujan deras. ...

Bagaimana ini (2)

123 hari sejak nenek berpulang, dan aku masih sering menangis. Di pagi dan siang hari saat aku seorang diri di rumah atau malam sebelum tidur. Banyak hal yang mengingatkanku pada nenek. Ingatan tentang hari-hari terakhir beliau, kebaikan-kebaikannya sepanjang hidupku, dan ketabahannya yang ternyata jauh lebih besar dari yang kuduga. Hatiku sedih dan terenyuh di waktu yang sama.  Rasanya sesak, tetapi aku tidak punya pilihan lain selain mendoakannya.  Bagaimana ini? Aku takut rinduku, air mataku, dan perasaan sedih ini jadi menyusahkan beliau di sana. Aku bukannya tidak ikhlas. Aku hanya rindu.. Rindu yang berakhir dengan air mata dan rasa sedih. Ternyata, kehilangan karena kematian adalah luka yang akan dibawa seumur hidup. Bukan karena kita tidak ikhlas, tetapi karena kesadaran bahwa kita tidak akan bertemu lagi di dunia ini. Bahwa kita tidak bisa memeluknya lebih lama. Bahwa kita mulai lupa aroma tubuhnya. Luka itu besar dan menganga, namun tidak terlihat. Entah seratus, ser...