@ammasyam_ Akun Instagramku kehapus, hiksss ðŸ˜ðŸ˜ Let me say good bye to my Instagram account @ammasyam_ Huuffftttt Aku lagi shift pagi di tanggal merah hari jumat, dan kondisi IGD sangat hectic, pasien terus berdatangan, mayoritas anak-anak yang sulit dipasang infus. Lalu setelah itu ada pasien gawat dengan kondisi kesadaran menurun. Aku melihat dari balik loket apotek ketegangan yang berubah jadi isak tangis saat qadarullah pasien gawat tersebut dinyatakan meninggal dunia. Ada perasaan perih yang bercampur aduk mendengar suara tangis itu. Sementara resep pasien rawat inap masih terus masuk di aplikasi SIMRS dan pelayanan harus tetap berjalan. Di sela waktu sebelum sholat Dzuhur aku menyempatkan diri membuka hape, dan tada... ada notif dari Instagram kalau akunku ditangguhkan. Karena sedang hectic, kuabaikanlah notif itu. Nanti saja di rumah. Diperjalanan pulang, aku melipir ke minimarket, dan saat mau keluar aku baru sadar kalau di luar sedang hujan deras. ...
Perasaan tidak memiliki barometer, atau neraca untuk menimbangnya
dan disimpulkan: lebih besar, lebih banyak, lebih sedikit, lebih dalam,
dari apa/sesiapa.
***
Allahummagfirlahu warhahmu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.
:'(
Rasanya masih tidak percaya dengan berita duka yang menghampiri. Tadi pagi, masih kubalas salamnya, kulihat senyum tulusnya, kusalim tangannya. Siapa sangka itu salam terakhir yang kudengar darinya. Siapa sangka itu terakhir kali kulihat senyumnya, indah, ceraaah sekali. Dan suatu kesyukuran masih sempat diberi kesempatan untuk menjabat tangannya, memohon maaf pada beliau.
"Minal Aidin, Pak"
Lantas beliau sambung, "Wal Faidzin"
Yaa Allah, pagi tadi beliau baik-baik saja.
Banyak yang kehilangan, dan merasa kehilangan atas panggilan-Mu padanya, Yaa Allah. Pun saya, entah pada mereka yang kehilangan atau sekadar merasa kehilangan.
"Saya mau kasih tahu, jadi kalian ini harus ambil tahu..." itu kata-kata andalan beliau.
Kalau marah, beliau cuma bilang, "Dengan segala hormat, tolong diperhatikan..."
"Suku pertama pangkat dua, ditambah dua kali suku pertama kali suku ke dua, ditambah suku ke dua pangkat dua..." itu rumus yang paling kuingat dari beliau.
Di beberapa ujian, terutama bahasa Inggris, saya sering bertanya ketika beliau mengawas. Di ujian matematika, beliau selalu memberi penjelasan setelah kukumpul lembar jawabanku. Saat galau karena Gasing, Ripnas, dan Smention, beliau selalu memberi saran. Selalu tersenyum, menyemangati. Bahkan pintu rumahnya selalu terbuka lebar. Belum lagi ketika di kelas, tak terhitung seberapa lapang hatinya yang dengan sabar megajari kami. Dan beribu kebaikan beliau...
Allahummagfirlahu warhahmu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.
Selamat jalan, Pak Arham.
Jalanmu Husnul Khotimah, insya Allah :')
Semoga syurga tempatta kembali.
***
Senin, 27 Juli 2015
Di senin pertama setelah libur Ramadhan
Kami kehilangan satu guru terbaik kami, guru tercinta kami
SMAKES berduka :'(
Komentar
Posting Komentar