A kindly reminder for my self Entah pernah baca ini dimana, katanya rumus kehidupan sebagai seorang hamba adalah doa, ikhtiar, dan tawakal. Karena ikhtiar tanpa doa itu sombong, dan doa tanpa ikhtiar itu sama saja bohong. Lalu, setelah berikhtiar dan berdoa, biar Allah yang menetapkan hasil terbaiknya. Itulah bentuk tawakal. Tapi, ada satu hal yang harus berjalan beriringan dengan doa, ikhtiar, dan tawakal, yaitu sangka baik... yang muaranya takkan jauh-jauh dari syukur ataupun sabar, dan tidak ada kerugian di antara keduanya. Kalau bersyukur, Allah tambah nikmatmu, kalau bersabar kamu mendapat pahala, dan Allah bersamamu. Berbaik sangkalah pada Allah bahwa semua ketetapan-Nya adalah yang terbaik, karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Jangan pernah lepaskan sangka baikmu pada Allah, ya. ♥️🤗 Maros, 31 Agustus 2026
Perasaan tidak memiliki barometer, atau neraca untuk menimbangnya
dan disimpulkan: lebih besar, lebih banyak, lebih sedikit, lebih dalam,
dari apa/sesiapa.
***
Allahummagfirlahu warhahmu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.
:'(
Rasanya masih tidak percaya dengan berita duka yang menghampiri. Tadi pagi, masih kubalas salamnya, kulihat senyum tulusnya, kusalim tangannya. Siapa sangka itu salam terakhir yang kudengar darinya. Siapa sangka itu terakhir kali kulihat senyumnya, indah, ceraaah sekali. Dan suatu kesyukuran masih sempat diberi kesempatan untuk menjabat tangannya, memohon maaf pada beliau.
"Minal Aidin, Pak"
Lantas beliau sambung, "Wal Faidzin"
Yaa Allah, pagi tadi beliau baik-baik saja.
Banyak yang kehilangan, dan merasa kehilangan atas panggilan-Mu padanya, Yaa Allah. Pun saya, entah pada mereka yang kehilangan atau sekadar merasa kehilangan.
"Saya mau kasih tahu, jadi kalian ini harus ambil tahu..." itu kata-kata andalan beliau.
Kalau marah, beliau cuma bilang, "Dengan segala hormat, tolong diperhatikan..."
"Suku pertama pangkat dua, ditambah dua kali suku pertama kali suku ke dua, ditambah suku ke dua pangkat dua..." itu rumus yang paling kuingat dari beliau.
Di beberapa ujian, terutama bahasa Inggris, saya sering bertanya ketika beliau mengawas. Di ujian matematika, beliau selalu memberi penjelasan setelah kukumpul lembar jawabanku. Saat galau karena Gasing, Ripnas, dan Smention, beliau selalu memberi saran. Selalu tersenyum, menyemangati. Bahkan pintu rumahnya selalu terbuka lebar. Belum lagi ketika di kelas, tak terhitung seberapa lapang hatinya yang dengan sabar megajari kami. Dan beribu kebaikan beliau...
Allahummagfirlahu warhahmu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.
Selamat jalan, Pak Arham.
Jalanmu Husnul Khotimah, insya Allah :')
Semoga syurga tempatta kembali.
***
Senin, 27 Juli 2015
Di senin pertama setelah libur Ramadhan
Kami kehilangan satu guru terbaik kami, guru tercinta kami
SMAKES berduka :'(
Komentar
Posting Komentar