Pelajaran di usia dua puluh delapan tahun: Ayo kita cintai dan maafkan diri kita sendiri. Maafkan juga kesalahan orang lain, bukan karena kita pantas disakiti, tapi demi kelegaan dan ketenangan diri sendiri. Sadari bahwa kita hanya manusia. Aku, kamu, dia, mereka, semua berpotensi berbuat salah dan membuat kecewa. Kita bukan malaikat. Itulah kenapa Allah memberikan kita hati, akal, dan pikiran. Kita diberi pilihan mau memaafkan, mau mengikhlaskan, mau menerima dengan lapang, atau mau memelihara dendam dan kebencian. Kita diberi pilihan mau menjalani hidup dengan bahagia dan tenang atau membuang-buang waktu dengan penyesalan yang tidak ada habisnya. Kali ini, aku memilih diriku sendiri. Terima kasih ya Amma, sudah bertahan sejauh ini. Tenang saja, ada Allah kok. Jangan putus doa-doa baiknya. Gak akan rugi, insyaa Allah. Untuk semua hal yang tidak kamu adukan pada ayah, tidak pula kamu tangisi di makam ibu, dan hal-hal yang tidak kamu ceritakan pada adikmu, aku cuma mau bilang...
Tidak semuanya harus diungkapkan dengan kata-kata, Anu | Tapi hal-hal seperti itu selalu bikin salah fokus, ambigu sekali -,- | Ah, masa sih? Kalau matematika kebanyakan angka yang kupake, bukan kata :p | Huaaaa, seriuska ini Am | Saya juga serius, Anu | Itu' Anu mi sede napanggilkan ki -,- 'anu' juga itu ambigu sekali | Haha, karena kau kalau bicara suka sepotong-sepotong, banyak anu-nya. Makanya kupanggil Anu saja | Satu kali pi nah Am, kubombe betulanko itu | Hahaha, maaf pae. Ngemeng-ngemeng nda pergi jum'atan kah? | Apa? Jum'atan? Nu cini' laki-laki ka'? | Hahaha, ampungka' Anu :D *upss | Ituuuuu.... | \:D/
Kita cari solusinya sama-sama nah :) Karena memang banyak hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata :D
Seperti ikatan pertemanan yang tidak perlu pengakuan bahwa ia adalah sahabat.
*eh, balas bbmku eh, masa dibombe betulanka :'D
Maros, 22 Mei 2015
Komentar
Posting Komentar