Pelajaran di usia dua puluh delapan tahun: Ayo kita cintai dan maafkan diri kita sendiri. Maafkan juga kesalahan orang lain, bukan karena kita pantas disakiti, tapi demi kelegaan dan ketenangan diri sendiri. Sadari bahwa kita hanya manusia. Aku, kamu, dia, mereka, semua berpotensi berbuat salah dan membuat kecewa. Kita bukan malaikat. Itulah kenapa Allah memberikan kita hati, akal, dan pikiran. Kita diberi pilihan mau memaafkan, mau mengikhlaskan, mau menerima dengan lapang, atau mau memelihara dendam dan kebencian. Kita diberi pilihan mau menjalani hidup dengan bahagia dan tenang atau membuang-buang waktu dengan penyesalan yang tidak ada habisnya. Kali ini, aku memilih diriku sendiri. Terima kasih ya Amma, sudah bertahan sejauh ini. Tenang saja, ada Allah kok. Jangan putus doa-doa baiknya. Gak akan rugi, insyaa Allah. Untuk semua hal yang tidak kamu adukan pada ayah, tidak pula kamu tangisi di makam ibu, dan hal-hal yang tidak kamu ceritakan pada adikmu, aku cuma mau bilang...
Jangan memberi diam pada katakata yang hidup di kepalamu
dan menghempaskannya setelah kau kumpul jadi satu.
Diam yang panjang serupa pedang, dia bisa mengiris
hati yang rapuh, belum cukupkah mata menumpah tangis?
-AIM-
Ya, jangan pernah sekali-kali. Karena melisankannya adalah obat mujarab yang dapat menenangkan jiwa. Tapi aku berali-kali bertanya pada hatiku sendiri. Apa jadinya jika aku tak tinggal diam tapi kekata itu kuputarbalikkan. Mengabai fakta yang terpendam. Lalu menjadi antagonis!
Ya, apa gunanya melisankan jika yang terlontar tidak sesuai dengan apa yang ada di kepala dan hatiku? Apa gunanya melisankan jika bukan kesembuhan dan kelegaan yang didapatkan? Apa gunanya melisankan jika hati kecil mengingkari kekata itu? Apa gunanya melisankan jika yang tercipta hanya dusta semata? Apa gunanya melisankan jika harus menjelma tokoh antagonis dalam batin sendiri? Bukankah itu sama saja mengasah dan menusuk diri sendiri dengan sejuta sembilu?
Terkadang saya merasa ada satu goresan yang tercipta ketika berkali-kali berkata "nda papa ji". Ketika harus menyembunyikan embun di bola mata. Dan dengan gamblangnya mengatakan "bukan rezkiku". Ya, terkadang terbesit untuk mendahulukan ego saja, tanpa embel-embel tidak enak pada orang lain. Tapi tetap saja, aku bisa apa?
Nyatanya tidak ada yang bisa kuperbuat selain berpura-pura tersenyum. Membunuh rangkaian kekata yang siap terjun dari ujung lidah. Berpura-pura bijak sedang batinku memberontak.
Lalu aku bisa apa?
Maros, 03 Maret 2015
Komentar
Posting Komentar