A kindly reminder for my self Entah pernah baca ini dimana, katanya rumus kehidupan sebagai seorang hamba adalah doa, ikhtiar, dan tawakal. Karena ikhtiar tanpa doa itu sombong, dan doa tanpa ikhtiar itu sama saja bohong. Lalu, setelah berikhtiar dan berdoa, biar Allah yang menetapkan hasil terbaiknya. Itulah bentuk tawakal. Tapi, ada satu hal yang harus berjalan beriringan dengan doa, ikhtiar, dan tawakal, yaitu sangka baik... yang muaranya takkan jauh-jauh dari syukur ataupun sabar, dan tidak ada kerugian di antara keduanya. Kalau bersyukur, Allah tambah nikmatmu, kalau bersabar kamu mendapat pahala, dan Allah bersamamu. Berbaik sangkalah pada Allah bahwa semua ketetapan-Nya adalah yang terbaik, karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Jangan pernah lepaskan sangka baikmu pada Allah, ya. ♥️🤗 Maros, 31 Agustus 2026
Melawan dingin yang menembus bulu lebatnya, Jiyeon menerjang dengan kecepatan maksimal. Sesekali melambat jika merasa bohlam peninggalan kerajaan yang dicurinya dari penjara bawah tanah istana hampir lepas dari gigitannya.
Kalau bukan karena Ratu Ellen, penguasa rimba Scridimere yang menculik Putri Albed, majikannya, ia takkan rela mengotori bulu halusnya yang terawat siang malam demi menerobos gelapnya hutan itu. Matanya nyalang menatap tikus-tikus yang berlarian, mencoba melawan rasa takut yang kian menggerogoti pikirannya. Apalah yang bisa diandalkan dari kucing betina peliharaan istana sepertinya. Ia terbiasa dimanja dan dibuai. Tanpa tugas, tanpa beban.
Semakin jauh, pepohonan ramai membisikkan puja terhadap Ratu Ellen. Semilir angin menyebar bebauan bangkai yang kian menyengat, burung gagak dan burung hantu silih berganti merapal mantra kematian. Jiyeon memejam mendengar aungan serigala dari balik bukit. Tetiba nyalinya menciut, ia hanya mengandalkan kemilau sayap peri-peri kecil yang beterbangan dari bohlam kerajaan. Peri-peri inilah yang menjadi sasaran utama Ratu Ellen untuk dicampurkan pada ramuan keabadian, agar seluruh jagat raya tunduk padanya.
Giginya bergemelutuk merasakan desir angin kejahatan. Lajunya mulai melambat, sedang rintik hujan beracun mulai turun. Kaki kecilnya lihai menghindari akar pohon yang menjerat. Gawat! Penghuni Scridimere telah menyadari kehadirannya, ia lengah dalam merapal mantra pengecoh.
Menambah kecapatan, Jiyeon melompat, menerjang mulut gua tempat Putri Albed ditawan. Gua itu dilapisi mantra untuk membutakan siapa saja yang menerobosnya. Seakan tersambar petir, Jiyeon merasakan seluruh persyarafannya menegang, bulunya seakan berguguran. Semua buram, beruntung ia masih menggigit bohlam yang akan menjadi sumber kekuatan Putri Albed.
“Jiyeon!!!” Putri Albed nyaring memanggilnya, menyadarkan Ratu Ellen akan kehadiran kucing itu. Jiyeon limbung dalam pelukan Putri Albed.
Tawa licik Ratu Ellen membahana di penjuru gua. “Akulah penguasa Scridimere… Semesta alam tunduk kepadaku… Kalian semua dalam kuasaku…”
Putri Albed bangkit, kuat menggenggam bohlam kerajaan. Seketika terdengar dentuman keras, kedua wanita itu saling beradu. Dan Jiyeon menutup mata.
***
Sebagai pembuka Januari, tidak ada salahnya diawali dengan tulisan yang diikutsertakan dalam Mini Giveaway nya Kak Reffi Dhinar. :)
Maros, 030115

Komentar
Posting Komentar