A kindly reminder for my self Entah pernah baca ini dimana, katanya rumus kehidupan sebagai seorang hamba adalah doa, ikhtiar, dan tawakal. Karena ikhtiar tanpa doa itu sombong, dan doa tanpa ikhtiar itu sama saja bohong. Lalu, setelah berikhtiar dan berdoa, biar Allah yang menetapkan hasil terbaiknya. Itulah bentuk tawakal. Tapi, ada satu hal yang harus berjalan beriringan dengan doa, ikhtiar, dan tawakal, yaitu sangka baik... yang muaranya takkan jauh-jauh dari syukur ataupun sabar, dan tidak ada kerugian di antara keduanya. Kalau bersyukur, Allah tambah nikmatmu, kalau bersabar kamu mendapat pahala, dan Allah bersamamu. Berbaik sangkalah pada Allah bahwa semua ketetapan-Nya adalah yang terbaik, karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Jangan pernah lepaskan sangka baikmu pada Allah, ya. ♥️🤗 Maros, 31 Agustus 2026
Andai kalian tahu dimana letak aku kerap mengintip.
Andai kalian tahu seperti apa keadaan yang tengah menjepit ini. Yang terus mendesak tak memberi ruang. Sungguh! Akupun ingin seperti dulu, yang sering aktif tak kenal absen. Tapi apa mau dikata, lagi-lagi keadaan seakan mencekik. Sungguh! Tak sedikitpun terbesit niat tuk seperti sekarang ini. Akupun rindu sajak-sajak pertikaian kita. Canda tawa. Bahkan mungkin jauh lebih rindu dari kalian yang tengah asyik bergurau. Saling debat lewat tatapan mata.
Andai kalian tahu seperti apa keadaan yang tengah menjepit ini. Yang terus mendesak tak memberi ruang. Sungguh! Akupun ingin seperti dulu, yang sering aktif tak kenal absen. Tapi apa mau dikata, lagi-lagi keadaan seakan mencekik. Sungguh! Tak sedikitpun terbesit niat tuk seperti sekarang ini. Akupun rindu sajak-sajak pertikaian kita. Canda tawa. Bahkan mungkin jauh lebih rindu dari kalian yang tengah asyik bergurau. Saling debat lewat tatapan mata.
Lalu aku bisa apa?
Andai kalian tahu seperti apa keadaan yang tengah menjepit. Egoisnya waktu yang terlalu banyak memanggil. Membuka jalan hingga tak tahu lagi harus pilih jalan apa. Sungguh! Tak pernah terbesit niat untuk melepas tangan. Bersandar pada rasa tidak peduli, pula tak bertanggung jawab. Sungguh! Aku tak mengharap rasa kasihan kalian. Sebab yang tengah kujalani bukanlah hal yang menyiksa jasmaniku. Bukan. Sungguh bukan yang seperti itu, Hanya saja, batinku terasa limbung. Terlalu banyak pilihan. Sungguh! Aku hanya butuh pengertian dari kalian, kawan. Sedikit saja agar aku tak merasa menjadi kacang lupa kulitnya.
Komentar
Posting Komentar