@ammasyam_ Akun Instagramku kehapus, hiksss ðŸ˜ðŸ˜ Let me say good bye to my Instagram account @ammasyam_ Huuffftttt Aku lagi shift pagi di tanggal merah hari jumat, dan kondisi IGD sangat hectic, pasien terus berdatangan, mayoritas anak-anak yang sulit dipasang infus. Lalu setelah itu ada pasien gawat dengan kondisi kesadaran menurun. Aku melihat dari balik loket apotek ketegangan yang berubah jadi isak tangis saat qadarullah pasien gawat tersebut dinyatakan meninggal dunia. Ada perasaan perih yang bercampur aduk mendengar suara tangis itu. Sementara resep pasien rawat inap masih terus masuk di aplikasi SIMRS dan pelayanan harus tetap berjalan. Di sela waktu sebelum sholat Dzuhur aku menyempatkan diri membuka hape, dan tada... ada notif dari Instagram kalau akunku ditangguhkan. Karena sedang hectic, kuabaikanlah notif itu. Nanti saja di rumah. Diperjalanan pulang, aku melipir ke minimarket, dan saat mau keluar aku baru sadar kalau di luar sedang hujan deras. ...
Andai kalian tahu dimana letak aku kerap mengintip.
Andai kalian tahu seperti apa keadaan yang tengah menjepit ini. Yang terus mendesak tak memberi ruang. Sungguh! Akupun ingin seperti dulu, yang sering aktif tak kenal absen. Tapi apa mau dikata, lagi-lagi keadaan seakan mencekik. Sungguh! Tak sedikitpun terbesit niat tuk seperti sekarang ini. Akupun rindu sajak-sajak pertikaian kita. Canda tawa. Bahkan mungkin jauh lebih rindu dari kalian yang tengah asyik bergurau. Saling debat lewat tatapan mata.
Andai kalian tahu seperti apa keadaan yang tengah menjepit ini. Yang terus mendesak tak memberi ruang. Sungguh! Akupun ingin seperti dulu, yang sering aktif tak kenal absen. Tapi apa mau dikata, lagi-lagi keadaan seakan mencekik. Sungguh! Tak sedikitpun terbesit niat tuk seperti sekarang ini. Akupun rindu sajak-sajak pertikaian kita. Canda tawa. Bahkan mungkin jauh lebih rindu dari kalian yang tengah asyik bergurau. Saling debat lewat tatapan mata.
Lalu aku bisa apa?
Andai kalian tahu seperti apa keadaan yang tengah menjepit. Egoisnya waktu yang terlalu banyak memanggil. Membuka jalan hingga tak tahu lagi harus pilih jalan apa. Sungguh! Tak pernah terbesit niat untuk melepas tangan. Bersandar pada rasa tidak peduli, pula tak bertanggung jawab. Sungguh! Aku tak mengharap rasa kasihan kalian. Sebab yang tengah kujalani bukanlah hal yang menyiksa jasmaniku. Bukan. Sungguh bukan yang seperti itu, Hanya saja, batinku terasa limbung. Terlalu banyak pilihan. Sungguh! Aku hanya butuh pengertian dari kalian, kawan. Sedikit saja agar aku tak merasa menjadi kacang lupa kulitnya.
Komentar
Posting Komentar