Bismillah... Untuk setiap duka yang terasa panjang... Semoga Allah mudahkan kita melihat hikmah di baliknya. Untuk setiap luka yang diam-diam terasa… semoga Allah menjadikannya penggugur dosa. Untuk setiap sedih yang singgah tanpa diminta... semoga Allah menghitungnya sebagai doa yang tak sempat terucap. Untuk setiap tangis yang jatuh dalam sepi… semoga Allah menyimpannya sebagai pahala yang tak terlihat. Untuk setiap hati yang pernah terasa berat… semoga Allah menggantinya dengan ketenangan yang pelan-pelan datang. Untuk setiap langkah yang tertatih menahan perih… semoga Allah menjadikannya jalan pulang menuju hati yang lebih kuat. Untuk setiap hari yang dilewati dengan tabah… semoga Allah menghadirkan hari di mana kita tersenyum sambil berkata, “Terima kasih Yaa Allah... Ternyata aku bisa melewati semuanya.” ✨ Catatan 07 Ramadhan 1447H Maros, 25 Februari 2026
Dan sayapun ambruk sebelum pertahanan itu hadir.
Saya kembali pada diri yang dulu. Yang tak pernah mau membenci sesuatu dengan sangat. Hey, segalanya punya dua sisi, kan?
Namun, setelah malam itu, esoknya, kembali aku mengingkari.
Faktanya, aku membenci ketika menyadari mutiara itu hadir lagi di pipiku.
Ketika kawan dan guruku mendapati bening menganak sungai di pipi.
Kala belakang sekolah menjadi pelarian.
Dan Bu Guru menggenggam tanganku, sembari berujar,
"Ada apa, nak?"
Kala kawanku mengintip di balik dinding.
Dan, hey! Aku bertanya-tanya, sejak kapan Si Bening ini berani menampakkan diri di depan banyak orang? Bukankah ia bersahabat dengan hening.
Nyatanya, memang tak ada tempat untuk menyepi.
Kepada bening yang menjadi pemenang, selamat.
Komentar
Posting Komentar