Bismillah... Untuk setiap duka yang terasa panjang... Semoga Allah mudahkan kita melihat hikmah di baliknya. Untuk setiap luka yang diam-diam terasa… semoga Allah menjadikannya penggugur dosa. Untuk setiap sedih yang singgah tanpa diminta... semoga Allah menghitungnya sebagai doa yang tak sempat terucap. Untuk setiap tangis yang jatuh dalam sepi… semoga Allah menyimpannya sebagai pahala yang tak terlihat. Untuk setiap hati yang pernah terasa berat… semoga Allah menggantinya dengan ketenangan yang pelan-pelan datang. Untuk setiap langkah yang tertatih menahan perih… semoga Allah menjadikannya jalan pulang menuju hati yang lebih kuat. Untuk setiap hari yang dilewati dengan tabah… semoga Allah menghadirkan hari di mana kita tersenyum sambil berkata, “Terima kasih Yaa Allah... Ternyata aku bisa melewati semuanya.” ✨ Catatan 07 Ramadhan 1447H Maros, 25 Februari 2026
Entah sejak kapan blog ini kunamai seperti judul di atas dengan tagline sebab kata yang tak sanggup kulisankan itu enggan kutelan. Entah sejak kapan pula blog ini selalu jadi pelarianku saat dunia terasa bising, saat kepalaku sangat berisik, saat tidak kutemukan telinga untuk mendengarkan, atau bahkan saat aku hanya iseng dan bosan. Blog ini, sejauh ini masih ada, menampung semua kekata di ujung jemariku. Aku bertanya-tanya, siapa yang lebih setia? Aku kepada blogku atau blogku kepadaku? Ah, sepertinya kami saling menyetia. Tulisan-tulisan di blog ini memang awam, begitulah adanya. Meski awalnya aku ingin menjadi penulis buku, tak apa jika ternyata aku berakhir sebagai penulis blog (yang lebih mirip diary harian). Tak apa jika blog ini tak punya pembaca. Tak apa jika blog kini mulai tergantikan, dilupakan, bahkan ditinggalkan banyak orang. Aku memilih untuk tetap menulis di sini. Sebab dengan menulis, hatiku terasa lebih lapang dan hidup. Sebab menulis adalah obat. Ada...