Langsung ke konten utama

Catatan terakhir...

Tak Ada yang Sia-sia

Bismillah... Untuk setiap duka yang terasa panjang... Semoga Allah mudahkan kita melihat hikmah di baliknya.  Untuk setiap luka yang diam-diam terasa… semoga Allah menjadikannya penggugur dosa.  Untuk setiap sedih yang singgah tanpa diminta... semoga Allah menghitungnya sebagai doa yang tak sempat terucap. Untuk setiap tangis yang jatuh dalam sepi… semoga Allah menyimpannya sebagai pahala yang tak terlihat. Untuk setiap hati yang pernah terasa berat… semoga Allah menggantinya dengan ketenangan yang pelan-pelan datang. Untuk setiap langkah yang tertatih menahan perih… semoga Allah menjadikannya jalan pulang menuju hati yang lebih kuat. Untuk setiap hari yang dilewati dengan tabah… semoga Allah menghadirkan hari di mana kita tersenyum sambil berkata, “Terima kasih Yaa Allah... Ternyata aku bisa melewati semuanya.” ✨ Catatan 07 Ramadhan 1447H Maros, 25 Februari 2026

Tujuh (belas)

Tujuh belas agustus, tahun 45
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka, nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
MERDEKA
Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih dikandung badan
Kita tetap setia, tetap sedia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia, tetap sedia
Membela negara kita
 
***

Aku suka angka satu dan tujuh. Jika digabungkan, menjadi tujuh belas. Aku suka angka tujuh belas. Salah satunya karena Indonesia merdeka di tanggal tujuh belas. Masih tentang tujuh belas, Alhamdulillah sudah sebulan ini kujalani hari dalam petik tujuh belas. 

Sebulan bersama tujuh belas adalah pembelajaran, untuk esok dan angka-angka setelahnya.

Siapkanlah dirimu untuk waktu-waktu sulit yang menghentak... 

Kupikir, angka sebelum tujuh belas adalah bekal untuk bersua dengan usia tujuh belas. Nyatanya, banyak hal yang tak kutemui sebelumnya, lalu tetiba menghentakku. Ternyata, tujuh belas tak semanis yang orang-orang perbincangkan, meski tak sepahit yang mungkin dipikirkan banyak orang. Sama sekali tidak menyangka bahwa akan ada banyak ketakutan baru yang datang bersama bunga-bunga. 

Tiga tahun lalu, tepat tujuh belas agustus, aku sibuk merapalkan lagu-lagu kemerdekaan. 

Dengar(dengar) hai dengar (hai dengar)
Nyanyian mulia bagimu pahlawan kusuma bangsa
Dengar(dengar) hai dengar (hai dengar)
Seruan mulia seluruh negara memuji dikau
Dengar derap langkah pahlawan, menuju medan perang
Memanggil setiap putera, ikut bela bangsa
Dengar(dengar) hai dengar(hai dengar)
Nyanyian gembira bagimu pahlawan kusuma bangsa...

AUBADE 170812 : PADA PAHLAWAN

Kemudian, hingga tiga tahun setelahnya, tujuh belas agustus selalu datang dengan kerinduan dan kenangan.

Berikan daku harapan, kujadikan pegangan
Bila waktu berpisah tiba, tunaikan tuga negara
Ucapan janji setia, kan kusimpan di dada
Kujadikan permata hati, kan kupersembahkan nanti
Tunaikan tugasmu, do'aku slalu
Menangkan tugasmu, restu sluruh bangsamu
Jauh d imata kau nanti, pergi ke perbatasan
Tapi, slalu dekat di hati, kubangga dikau pahlwan
Tapi, slalu dekat di hati, kubangga dikau pahlwan.

AUBADE 170812 : BERIKAN DAKU HARAPAN
Hari itu, di tengah khidmatnya upacara bendera, terselip tawa di barisan aubade. Perihal bendera yang tetiba terlepas saking semangatnya mengayun lidi. Semoga 'Si Pelaku' masih ingat. 

Dari yakinku teguh
Hati ikhlas kupenuh
Akan karunia-Mu
Tanah air pusaka,
Indonesia Merdeka
Syukur aku sembahkan
Kehadirat-Mu Tuhan.

AUBADE 170812 : SYUKUR

***

Dan Tujuh Belas Agustus hari itu, akan menjadi hal yang kurindukan. Berbanggalah kalian yang menjadi bagian dari setiap upacara bendera, pun rutinitas di senin pagi yang bagi sebagian orang membosankan. Karena akan tiba masanya, kau merindukan setiap detik pengibaran bendera itu :)


Maros, 17 Agustus 2015
nb: pas ngetik ini, soundtracknya Fifteen :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku layak, Aku berharga.

Aku pernah merasa sakit, lebih tepatnya merasa tersakiti. Aku pernah merasa ditinggalkan, padahal aku sendiri yang mundur dengan jelas. Aku pernah merasa tidak berharga. Pertanyaan-pertanyaan penuh duri berkelindan di kepalaku. Apakah aku setidakberharga itu untuk diperjuangkan? Apakah aku setidaklayak itu untuk mendapatkan cinta yang tulus? Kurangku apa? Salahku dimana? Aku sudah belajar dan mengupayakan banyak hal, termasuk hatiku, tapi apa yang aku dapatkan?  Kemudian aku berpikir, sebenarnya validasi dari siapa yang kutunggu? Aku cukup dan aku berharga.  Aku sangat berarti untuk keluargaku, sahabatku, dan orang-orang yang ada di sekelilingku. Bagi diriku sendiri. Dan yang paling penting, aku sangaaaaat dicintai oleh Allah, pemilikku. Tempat pulangku. Amma, orang-orang yang dulu membuatmu menangis sesenggukan hanya tidak sanggup melihat cahayamu yang berkilau. Mereka menutup mata dan menghindar. Mereka menyerah dan memilih pergi tanpa menyelam lebih dulu mencari mutiara yan...

Surat untuk Kak Iis yang jauuuh di sana

Hai kak! Di dunia lagi banyak trend baru loh.  Dulu tuh, camping, mendaki, menurutku sesuatu yg susah buat dilakuin, tapi hari-hari ini jadi sering lihat postingan orang-orang lagi hiking, wisata alam juga makin banyak yang bisa di-explore. Terus ada juga trend jogging yang saking nge-trend-nya tuh sampai ada jokinya kak. Joki strava namanya, orang lain yang lari, tapi kita yg ngeklaim dan posting pace strava-nya wkwk. Trend tiktok yang dari dulu memang sudah ada, sekarang makin banyak gayanya. Dari yang stecu-stecu, velocity, hmm apa lagi di', banyak dek pokoknya. Kayaknya tiap bulan tuh, adaaa aja trend tiktokan baru. Terus ini yang paling canggih menurutku kak, AI. Dibaca ei-ai. Semacam google tapi dia lebih hebat, bahkan bisa visualisasikan gambar dan video cuma dari deksripsi yang kita ketik. Agak ngeri dikit sih yah kalau di tangan orang yang salah. Di IG ku juga sering muncul isu-isu mental health, makin banyak orang yang aware. Terus, kalau dulu kita cuma tahu empat jenis k...

Dibuang Sayang~ Part 2

Musim Panen Sepanjang perjalanan diiringi padi yang menguning, tumpukan karung gabah, dan petakan terpal di depan rumah penduduk. Diawasi kanak-kanak dengan sebatang kayu di tangan. Tak lupa dikibarkan kantong plastik di bagian ujungnya, siap untuk mengusir burung yang hendak mematuk, namun lebih sering mengusir ayam yang berdatangan.  Nenekku, seorang petani yang menggarap sawah orang lain. Dan tentu saja masa kecilku juga pernah seperti itu. Dengan alibi menjaga gabah, padahal malah asik main sendiri di bawah pohon, meletakkan kayu pengusir ayam, dan baru beranjak ketika kulihat nenek atau mama keluar mengecek. Setelahnya, gabah-gabah yang dijemur itu akan diolah menjadi beras. Ini bagian yang paling kusukai. Karena di kampungku nyaris tak ada pabrik keliling, maka gabah sekarung dua karung akan dibawa ke pabrik gabah yang tempatnya di ujung kota. Kau harus mendengar suara mesinnya yang nyaring berisik. Melihat bangunannya yang gelap, luas, dan bertingkat papan. Menu...