Pelajaran di usia dua puluh delapan tahun: Ayo kita cintai dan maafkan diri kita sendiri. Maafkan juga kesalahan orang lain, bukan karena kita pantas disakiti, tapi demi kelegaan dan ketenangan diri sendiri. Sadari bahwa kita hanya manusia. Aku, kamu, dia, mereka, semua berpotensi berbuat salah dan membuat kecewa. Kita bukan malaikat. Itulah kenapa Allah memberikan kita hati, akal, dan pikiran. Kita diberi pilihan mau memaafkan, mau mengikhlaskan, mau menerima dengan lapang, atau mau memelihara dendam dan kebencian. Kita diberi pilihan mau menjalani hidup dengan bahagia dan tenang atau membuang-buang waktu dengan penyesalan yang tidak ada habisnya. Kali ini, aku memilih diriku sendiri. Terima kasih ya Amma, sudah bertahan sejauh ini. Tenang saja, ada Allah kok. Jangan putus doa-doa baiknya. Gak akan rugi, insyaa Allah. Untuk semua hal yang tidak kamu adukan pada ayah, tidak pula kamu tangisi di makam ibu, dan hal-hal yang tidak kamu ceritakan pada adikmu, aku cuma mau bilang...
Kelas nampak sepi, sedang seseorang di sudutnya tengah berkutat dengan rumah mayanya. Sesekali mengernyit saat melihat hal unik, tak jarang pula senyumnya merekah indah sembari membuka jendela biliknya. Lantas, seseorang mengetuk pintu.
" Assalamu'alaikum "
"Wa'alaikumsalam" Sang tuan mengernyit, mencoba membuka lembaran memorinya, 'siapa tamu ini?'
"Namamu, siapa?" Sang tuan mengernyit, lagi. Jelas-jelas namanya tertera di depan pintu. Aneh, batinnya.
"Tidakkah kau lihat sebelum mengetuk?"
....
"Ah, iya, maaf." Sang tamu hanya tersenyum kikuk.
~~~

Komentar
Posting Komentar