Pelajaran di usia dua puluh delapan tahun: Ayo kita cintai dan maafkan diri kita sendiri. Maafkan juga kesalahan orang lain, bukan karena kita pantas disakiti, tapi demi kelegaan dan ketenangan diri sendiri. Sadari bahwa kita hanya manusia. Aku, kamu, dia, mereka, semua berpotensi berbuat salah dan membuat kecewa. Kita bukan malaikat. Itulah kenapa Allah memberikan kita hati, akal, dan pikiran. Kita diberi pilihan mau memaafkan, mau mengikhlaskan, mau menerima dengan lapang, atau mau memelihara dendam dan kebencian. Kita diberi pilihan mau menjalani hidup dengan bahagia dan tenang atau membuang-buang waktu dengan penyesalan yang tidak ada habisnya. Kali ini, aku memilih diriku sendiri. Terima kasih ya Amma, sudah bertahan sejauh ini. Tenang saja, ada Allah kok. Jangan putus doa-doa baiknya. Gak akan rugi, insyaa Allah. Untuk semua hal yang tidak kamu adukan pada ayah, tidak pula kamu tangisi di makam ibu, dan hal-hal yang tidak kamu ceritakan pada adikmu, aku cuma mau bilang...
Teruntuk seorang kawan yang tak kunjung membaca pesanku, La tahzan, innallaha ma'ana. Tegarlah. Yakinlah bahwa setiap cobaan yang mendatangi kita adalah satu kekuatan untuk menjadi lebih baik. Duka yang memelukmu saat ini, jangan kau biarkan larut terlalu lama. Kau harus ingat, bahwa beliau ingin kau bahagia, maka tetaplah tersenyum. Bukankah kau tak ingin ia bersedih hati? Tak banyak yang bisa kukatakan, karena memang takkan pernah sama antara orang yang kehilangan dan merasa kehilangan. Perihal pesan yang masih saja tak terbaca, tak apa. Mungkin ini caramu mengurangi kesedihan. Mungkin pula, kau tak ingin dukamu merembes kemana-mana. Atau mungkin, caraku yang salah. Apapun itu, kau pasti punya alasan tersendiri, kan? Selebihnya, sebagai seorang teman, aku hanya bisa membantu dengan do'a dari sini. Be strong, Qis! Allahummagfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu :( *Maros, 290116