Pelajaran di usia dua puluh delapan tahun: Ayo kita cintai dan maafkan diri kita sendiri. Maafkan juga kesalahan orang lain, bukan karena kita pantas disakiti, tapi demi kelegaan dan ketenangan diri sendiri. Sadari bahwa kita hanya manusia. Aku, kamu, dia, mereka, semua berpotensi berbuat salah dan membuat kecewa. Kita bukan malaikat. Itulah kenapa Allah memberikan kita hati, akal, dan pikiran. Kita diberi pilihan mau memaafkan, mau mengikhlaskan, mau menerima dengan lapang, atau mau memelihara dendam dan kebencian. Kita diberi pilihan mau menjalani hidup dengan bahagia dan tenang atau membuang-buang waktu dengan penyesalan yang tidak ada habisnya. Kali ini, aku memilih diriku sendiri. Terima kasih ya Amma, sudah bertahan sejauh ini. Tenang saja, ada Allah kok. Jangan putus doa-doa baiknya. Gak akan rugi, insyaa Allah. Untuk semua hal yang tidak kamu adukan pada ayah, tidak pula kamu tangisi di makam ibu, dan hal-hal yang tidak kamu ceritakan pada adikmu, aku cuma mau bilang...
Sampai hari ini aku masih menangis setiap ingat nenek. Aku rinduuuuuu sekaliiii. Seperti rinduku pada mama.
Serindu itu aku dengan senyumannya, dengan kebaikannya, dengan suaranya.
Bagaimana ini? Kukira rasanya tidak akan sesakit ini. Kukira tangisku tidak akan sesering ini. Ternyata aku belum bisa melewati duka dengan cepat.
Di siang hari aku menangisi nenekku. Di malam hari aku menangisi mamaku. Bukan karena tidak ikhlas, aku hanya rindu. Rindu sekaliiiii.
Entah bagaimana menjabarkan kerinduan ini. Bisakah sesekali nenek dan mama datang ke mimpiku? Aku butuh pelukan kalian.
Komentar
Posting Komentar