Pelajaran di usia dua puluh delapan tahun: Ayo kita cintai dan maafkan diri kita sendiri. Maafkan juga kesalahan orang lain, bukan karena kita pantas disakiti, tapi demi kelegaan dan ketenangan diri sendiri. Sadari bahwa kita hanya manusia. Aku, kamu, dia, mereka, semua berpotensi berbuat salah dan membuat kecewa. Kita bukan malaikat. Itulah kenapa Allah memberikan kita hati, akal, dan pikiran. Kita diberi pilihan mau memaafkan, mau mengikhlaskan, mau menerima dengan lapang, atau mau memelihara dendam dan kebencian. Kita diberi pilihan mau menjalani hidup dengan bahagia dan tenang atau membuang-buang waktu dengan penyesalan yang tidak ada habisnya. Kali ini, aku memilih diriku sendiri. Terima kasih ya Amma, sudah bertahan sejauh ini. Tenang saja, ada Allah kok. Jangan putus doa-doa baiknya. Gak akan rugi, insyaa Allah. Untuk semua hal yang tidak kamu adukan pada ayah, tidak pula kamu tangisi di makam ibu, dan hal-hal yang tidak kamu ceritakan pada adikmu, aku cuma mau bilang...
![]() |
| source: google.com |
adalah perjalanan
mencari dan menemukan
melangkah dan mengumpulkan
bersalah dan memaafkan
Hidup
adalah ironi
bagi mereka yang melakoni
dengan jumawa
sesumbar akan dunia
Hidup
adalah kesempatan
mencari pengalaman
mengumpulkan kenangan
dengan atau tanpa perjuangan
Tapi,
hidup
adalah ujian
bagi mereka yang tak lelah memupuk iman
menghias diri dengan takwa dan kesadaran
bahwa kehidupan adalah titipan
sebuah persinggahan dan penantian
hingga ia berjumpa
dengan kematian.
***
Maros, 06 Desember 2018
Diposting di Makassar, 08 Desember 2018

Komentar
Posting Komentar