Pelajaran di usia dua puluh delapan tahun: Ayo kita cintai dan maafkan diri kita sendiri. Maafkan juga kesalahan orang lain, bukan karena kita pantas disakiti, tapi demi kelegaan dan ketenangan diri sendiri. Sadari bahwa kita hanya manusia. Aku, kamu, dia, mereka, semua berpotensi berbuat salah dan membuat kecewa. Kita bukan malaikat. Itulah kenapa Allah memberikan kita hati, akal, dan pikiran. Kita diberi pilihan mau memaafkan, mau mengikhlaskan, mau menerima dengan lapang, atau mau memelihara dendam dan kebencian. Kita diberi pilihan mau menjalani hidup dengan bahagia dan tenang atau membuang-buang waktu dengan penyesalan yang tidak ada habisnya. Kali ini, aku memilih diriku sendiri. Terima kasih ya Amma, sudah bertahan sejauh ini. Tenang saja, ada Allah kok. Jangan putus doa-doa baiknya. Gak akan rugi, insyaa Allah. Untuk semua hal yang tidak kamu adukan pada ayah, tidak pula kamu tangisi di makam ibu, dan hal-hal yang tidak kamu ceritakan pada adikmu, aku cuma mau bilang...
Dua hari yang lalu, aku menantang diriku sendiri untuk menulis di akhir tahun 2018. Judulnya, #26HariMenuju2019Challenge. Karena blog yang Alhamdulillah baru bisa login hari ini, maka biarlah tulisan sejak kamis kemarin menyusul. Yang penting aku tetap menulis, kata kata Iis. Dan, ini adalah beberapa list tema yang diberikan oleh teman-teman di story instagramku.
- Kehidupan
- Buku
- Kucing
- Air Mata
- Cita-cita
- Pagi
- Berdagang
- Matahari
- Kipas Angin
- Sajadah
- Luka
- Gelang
- Cinta Pertama
- Dzikir
- Hadiah
- Palestina
- Kimia
- Rumah
- Doa
- Musik
- Keluarga
- Waktu
- Boomerang
- Piala
- Pertanyaan
- Kematian
Dan, karena hasil voting kemarin lebih banyak yang memilih agar tulisan-tulisan itu kuposting di instagram, maka kuputuskan untuk menuliskannya di sini saja, demi menghidupkan kembali rumah keduaku ini. Rumah yang telah lama kutinggal pergi.
Doaku, semoga kamu istiqamah dan kembali menulis lagi, Am.
Makassar, 08 Desember 2018

Komentar
Posting Komentar