Pelajaran di usia dua puluh delapan tahun: Ayo kita cintai dan maafkan diri kita sendiri. Maafkan juga kesalahan orang lain, bukan karena kita pantas disakiti, tapi demi kelegaan dan ketenangan diri sendiri. Sadari bahwa kita hanya manusia. Aku, kamu, dia, mereka, semua berpotensi berbuat salah dan membuat kecewa. Kita bukan malaikat. Itulah kenapa Allah memberikan kita hati, akal, dan pikiran. Kita diberi pilihan mau memaafkan, mau mengikhlaskan, mau menerima dengan lapang, atau mau memelihara dendam dan kebencian. Kita diberi pilihan mau menjalani hidup dengan bahagia dan tenang atau membuang-buang waktu dengan penyesalan yang tidak ada habisnya. Kali ini, aku memilih diriku sendiri. Terima kasih ya Amma, sudah bertahan sejauh ini. Tenang saja, ada Allah kok. Jangan putus doa-doa baiknya. Gak akan rugi, insyaa Allah. Untuk semua hal yang tidak kamu adukan pada ayah, tidak pula kamu tangisi di makam ibu, dan hal-hal yang tidak kamu ceritakan pada adikmu, aku cuma mau bilang...
Antara rindu dan lupa, mimpi adalah lintasan yang penuh misteri. Mimpi membawa sepapan kelegaan dengan indikasi kerinduan, dan efek samping menyesakkan.
Mimpi mungkin karena kerinduan yang begitu dalam, atau karena dalam kenyataan kita lupa.
Kau pernah merasakan rindu yang hampir lupa dan menyapamu dalam mimpi? Yang kemudian, ketika kau terbangun, pelupuk matamu berembun, dan hatimu berharap bisa bermimpi lebih lama? Yang bodohnya, di dalam mimpi, rindumu belum terbayar lunas, dan kau belum sempat menyatakan kerinduan, bagaimana rasanya?
Amma rinduuuu :'(
*Maros, 190316
Komentar
Posting Komentar